Ini Dia 5 Perbedaan Reseller dan Dropshipper yang Jarang Orang Tahu

0
213
reseller dan dropshipper

Jika disuruh memilih antara Reseller atau Dropshipper, Sobat Shipper ingin pilih yang mana? Banyak sekali orang yang masih kebingungan saat dihadapkan pada dua pilihan profesi tersebut. Keduanya memang mirip dan sangat cocok dijadikan pekerjaan sampingan, tetapi tetap saja keduanya berbeda.

Reseller adalah seseorang yang membeli suatu produk dari supplier atau distributor untuk kemudian dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

Sementara dropshipper adalah seseorang yang bekerjasama dengan seorang pemilik usaha untuk memasarkan produknya saja. Saat pesanan masuk, maka pemilik usaha yang akan melakukan penyediaan dan pengiriman barang kepada konsumen. Dan dropshipper berhak memperoleh keuntungan atas jasa pemasarannya. Simak 5 perbedaan reseller dan dropshipper di bawah ini!

1. Perbedaan reseller dan dropshipper pada cara kerjanya

Perbedaan reseller dan dropship dapat diketahui dari bagaimana cara kerja mereka. Pada dasarnya reseller mirip seperti pedagang. Reseller membeli barang terlebih dahulu dari supplier atau distributor sebelum menjualnya kembali kepada konsumen.

Sebaliknya, cara kerja dropshipper yaitu terlebih dahulu menawarkan produk kepada konsumen. Jika ada pesanan masuk, barulah pesanan tersebut diteruskan kepada ke supplier atau distributor. Kemudian supplier atau distributor tersebut mengirimkan produk yang telah dipesan langsung kepada konsumen.

2. Perbedaan reseller dan dropshipper pada modalnya

Jika bicara tentang modal, dropshipper membutuhkan modal yang lebih sedikit. Sebab dropshipper tak harus membeli barang terlebih dahulu dari supplier atau distributor. Dengan hanya bermodalkan paket data, pulsa, dan jaringan informasi, seseorang sudah bisa menjalankan aktivitas dropshipper.

Sementara reseller harus membeli barang terlebih dahulu. Dan besarnya modal usaha akan menjadi penentu berapa banyak jumlah produk yang bisa kamu stok.

3. Soal profit, lebih untung reseller atau dropshipper?

Kalau soal profit, jelas lebih besar reseller. Karena reseller dapat memperoleh produk dengan harga lebih murah yang ditetapkan oleh supplier atau distributor, kemudian menetapkan harga jual sekehendaknya.

Beda halnya dengan dropshipper. Tak mudah bagi dropshipper memperoleh keuntungan sebesar reseller. Sebab, pemesanan yang diberikan melalui dropshipper biasanya tidak sebanyak pembelian reseller.

4. Risiko yang ditanggung

Walau nampak mudah, rupanya dropshipper juga punya risiko. Seperti ketersediaan produk yang tak selalu ada di tempat supplier atau distributor. Akhirnya pesanan yang masuk mau tak mau harus ditolak karena ketidaksediaan produk. Jika sudah seperti ini, tidak akan ada uang pemasukan.

Sedangkan risiko menjadi reseller, pastinya sudah bisa ditebak. Jika saja banyak produk yang tak laku terjual, pastinya akan mengalami kerugian yang lumayan. Semakin banyak yang tersisa, semakin besar kerugiannya.

5. Pelayanan kepada konsumen

Perbedaan reseller dan dropship juga nampak dari cara mereka memberikan pelayanan kepada konsumen. Reseller, ketika menerima pesanan, akan melakukan proses pengemasan dan pengiriman secara mandiri. Sehingga segala macam biaya pengemasan dan pengiriman menjadi tanggungan reseller.

Sementara dropshipper, hanya menyampaikan pesanan kepada supplier atau distributor. Dropshiper tidak menanggung beban biaya pengemasan dan pengiriman.

Itulah 5 perbedaan reseller dan dropshipper. Bagaimana? Sobat Shipper sudah menentukan ingin menjadi yang mana? Jika Sobat Shipper memilih menjadi reseller, jangan lupa untuk selalu bermitra dengan layanan pengantaran yang terpercaya, ya. Salah satunya Shipper, yaitu sebuah layanan jasa pengantaran barang berbasis aplikasi yang dapat memudahkan Sobat Shipper dalam melakukan pengiriman ke banyak tempat sekaligus, serta memudahkan dalam pengecekan ongkir dan nomor resi. Cobalah kunjungi websitenya di shipper.id. Semoga bermanfaat, Sobat Shipper!