Shipper.id, Start-up Calon Unicorn Baru Indonesia yang Dukung Inklusi Digital untuk UMKM

0
678

Pada laporan terbaru yang dirilis Daily Social pada Maret 2021, Shipper merupakan startup centaur di sektor logistik. Startup centaur memiliki valuasi antara 100 juta hingga 999 juta dollar AS. Centaur atau Aspiring Unicorn berada satu level di bawah Unicorn. 

Saat berbagai sektor usaha tumbang dalam setahun belakangan akibat pandemi Covid-19, sektor logistik menjadi salah satu yang mampu tumbuh cukup signifikan. Hal ini tak terlepas dari pertumbuhan tren belanja online selama pandemi, karena terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat dari offline menjadi online.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia saat ini tumbuh dua digit. Bahkan, mengalahkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Berdasarkan laporan e-Conomy SEA yang disusun Google, Temasek, dan Bain and Company, total nilai ekonomi digital Indonesia pada 2020 diperkirakan mencapai 44 miliar dollar AS atau sekitar Rp 631 triliun. Tumbuh 11 persen dibandingkan 2019 senilai 40 miliar dollar AS.

Kemajuan ekonomi digital Indonesia turut memacu pertumbuhan wirausahawan teknologi dan komunitas digital, termasuk di bidang logistik. Adalah Shipper.id, perusahaan rintisan alias startup karya anak bangsa ini merupakan salah satu perusahaan teknologi dengan perkembangan paling pesat di Indonesia. 

Pada laporan terbaru yang dirilis Daily Social pada Maret 2021, Shipper sudah termasuk dalam kategori startup centaur alias calon unicorn. Startup centaur memiliki valuasi antara 100 juta hingga 999 juta dollar AS. Shipper pun berharap mampu membangun kepercayaan publik dan investor hingga akhirnya dapat menambah perwakilan startup Indonesia yang mencapai tingkat Unicorn. 

Co-Founder dan COO Shipper Budi Handoko pada Kamis (1/4) mengungkapkan “Fenomena dan pertumbuhan startup di Indonesia sangat membanggakan. Tahun 2019 kita punya 27 calon startup unicorn, lalu meningkat menjadi 43 di 2020. Pada 2021, Shipper berharap dapat menyemarakkan atmosfer positif di ekosistem startup Indonesia. Yang pasti, kami akan terus melaju dan memberi solusi di bidang logistik untuk masyarakat Indonesia.” 

Inklusi Digital UMKM dan Visi Shipper 

Laju digitalisasi ikut terakselerasi selama pandemi. Meskipun mendapat peluang emas dari performa e-commerce, sektor logistik tidak bisa hanya mengandalkan digitalisasi. Sektor logistik juga memerlukan dukungan pembangunan infrastruktur agar mampu menjangkau wilayah Indonesia yang secara geografis terpisah oleh bentang alam, mulai dari lautan hingga pegunungan. 

Co-Founder & COO Shipper Budi Handoko menjadi pembicara dalam Wild Digital BOOM Conference 2021, Rabu (31/1). Acara ini dihadiri praktisi startup dan korporasi dari berbagai belahan dunia.

Gagasan tersebut disampaikan Budi pada Wild Digital BOOM Conference 2021, Rabu (31/3) yang membahas topik digitalisasi ekonomi yang inklusif di Indonesia. Pada forum virtual yang dihadiri penggiat startup dan pebisnis internasional tersebut, Budi menekankan, “Bagi kami, sukses di bidang logistik adalah mampu menyediakan jasa pengiriman barang yang efisien, menjangkau berbagai lokasi, namun dengan harga yang terjangkau.” 

Budi yang juga masuk ke dalam nominasi Boom21 Disruptors oleh Wild Digital menambahkan “Aksesibilitas dari infrastruktur fisik sangat penting dan kami bersyukur karena pemerintah Indonesia sedang menuju ke sana. Misalnya dengan adanya national logistic ecosystem (NLE) yang diinisiasi pemerintah.” 

Pada kesempatan terpisah di jumpa pers ShipperHack 2021 beberapa waktu lalu, Budi juga menggarisbawahi pentingnya inklusi digital dan infrastruktur untuk menggerakkan ekonomi nasional lewat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Shipper mengungkap, salah satu misi perusahaan adalah bagaimana memanfaatkan prinsip sharing economy dan mendorong momentum digitalisasi untuk menjangkau jutaan UMKM yang tersebar di Indonesia, khususnya di luar pulau Jawa, sehingga tercipta ekosistem ekonomi digital yang merata dan inklusif. 

UMKM membutuhkan dukungan sistem logistik untuk meningkatkan efisiensi aliran barang, informasi, dan transaksi yang akan berdampak terhadap produktivitas. Hal ini sekaligus untuk menambah daya saing UMKM di tingkat nasional maupun global. 

Seperti yang diketahui, pelaku UMKM masih terbebani dengan biaya logistik yang besar. Studi Lazada yang dipublikasikan pada Februari 2021 menunjukkan, setidaknya 65 persen UMKM merasa logistik menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan usaha mereka.  

Seiring dengan upaya-upaya pemerataan infrastruktur dan akses digital, digitalisasi sektor logistik pun menjadi salah satu faktor penting untuk menuju pembangunan ekonomi digital yang inklusif sekaligus untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh jutaan pelaku UMKM di masa mendatang.

“Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang pesat merupakan kabar gembira dan hal yang luar biasa penting khususnya bagi UMKM karena semakin terbuka lebar peluang untuk menjaga dan mengembangkan bisnis mereka. Karena itu, Shipper berharap dapat terus berinovasi dan menjangkau lebih banyak UMKM di berbagai pelosok daerah guna mendorong pemerataan kesempatan berusaha UMKM,” tutup Budi.